GARUT, Dikte.id | Menjelang libur Lebaran, para pelaku usaha hotel dan restoran di Kabupaten Garut terus mematangkan berbagai persiapan guna mengantisipasi peningkatan jumlah wisatawan.
Ketua BPC PHRI Garut, H. Ato Hermanto, mengungkapkan bahwa pihaknya telah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kekurangan pada periode libur sebelumnya. Evaluasi tersebut menjadi dasar untuk meningkatkan kualitas layanan dan fasilitas tahun ini.
Menurutnya, persiapan menghadapi musim liburan Lebaran sudah menjadi agenda rutin yang selalu diperbaiki dari tahun ke tahun. Ia optimistis pelayanan kepada wisatawan akan semakin maksimal, dengan mengedepankan keramahan dan kesiapan dalam menyambut tamu.
Ato memastikan seluruh hotel dan restoran di Garut berkomitmen memberikan pelayanan terbaik tanpa kendala berarti selama masa libur. Dengan jumlah hotel yang hampir mencapai 200 unit, mulai dari kelas melati hingga berbintang, kapasitas akomodasi di Garut dinilai cukup memadai.
Ia juga menyebutkan adanya rencana penambahan hotel berbintang baru, yang menunjukkan potensi pariwisata Garut terus berkembang dan memiliki daya tarik tinggi.
Namun demikian, bertambahnya jumlah hotel juga akan meningkatkan persaingan antar pelaku usaha. Oleh karena itu, profesionalisme dan standar pelayanan menjadi faktor utama agar tetap kompetitif.
Ato menegaskan bahwa pelaku usaha tidak boleh hanya bersaing dari sisi harga, tetapi juga harus menjaga kualitas layanan agar wisatawan tetap tertarik berkunjung ke Garut.
Ia optimistis Garut akan terus menjadi destinasi unggulan di Jawa Barat, selama seluruh pihak mampu menjaga kualitas dan bekerja sama. Menurutnya, kunci pengembangan sektor ini terletak pada optimisme dan kolaborasi.
Semangat “PHRI Bangkit” yang diusung saat ini, lanjut Ato, bukan hanya untuk organisasi, tetapi juga untuk seluruh pelaku usaha hotel dan restoran agar terus berkembang bersama.
Ia juga menekankan pentingnya promosi secara kolaboratif lintas daerah dan sektor, termasuk menjangkau kota-kota besar seperti Bandung dan Jakarta, bahkan hingga luar Jawa Barat.
Selain itu, sinergi antara pemerintah daerah, pelaku usaha, pengelola wisata, dan masyarakat dinilai sangat penting dalam membangun pariwisata yang berkelanjutan.
Menurutnya, tidak hanya sektor hotel dan restoran yang perlu diperhatikan, tetapi juga infrastruktur, birokrasi, serta kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan wisata.
Di akhir, Ato mengingatkan para pelaku usaha agar tidak memanfaatkan momentum libur Lebaran dengan menaikkan harga secara berlebihan. Ia menekankan pentingnya menjaga kepercayaan wisatawan dengan tetap menetapkan tarif yang wajar.
Dengan berbagai persiapan tersebut, diharapkan wisatawan yang datang ke Garut tidak hanya meningkat, tetapi juga merasa nyaman dan betah untuk tinggal lebih lama. ***