09
AGUSTUS 2026 04:14 WIB
PENDIDIKAN 30 Kali Dilihat

Bangun Generasi Qur’ani, Orang Tua Didorong Terapkan Positive Parenting

Asep Awing

Asep Awing

Pewarta

Bangun Generasi Qur’ani, Orang Tua Didorong Terapkan Positive Parenting

BANDUNG, Logo | Masjid Raya Al-Azhar Podomoro Park, Bojongsoang, Kabupaten Bandung, menggelar bedah buku berjudul Positive Parenting: Mengasuh dengan Hati, Membentuk Generasi Qur'ani, Panduan Ilmiah dan Islami untuk Orang Tua Modern, Ahad, 9 Agustus 2026.

Kegiatan yang berlangsung di Masjid Raya Al-Azhar, Jalan Boulevard Utara No. 17, Podomoro Park, tersebut menghadirkan kedua penulis buku, Dr. Tepi Mulyaniapi, S.Sos., M.Pd. dan Ustadzah Imas Karyamah, S.Ag., M.Pd. Sementara itu, sosiolog Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Hj. Siti Komariah, Dra., M.Si., Ph.D., hadir sebagai pembedah.

Dalam pemaparannya, Dr. Tepi Mulyaniapi mengatakan, keluarga merupakan lingkungan pendidikan pertama dan paling menentukan bagi perkembangan anak. Di rumah, anak pertama kali belajar tentang agama, kasih sayang, kepercayaan, disiplin, tanggung jawab, dan hubungan sosial.

"Pengasuhan bukan sekadar memenuhi kebutuhan fisik anak, tetapi merupakan proses membentuk manusia secara utuh: beriman, berakhlak, mandiri, sehat secara emosional, dan mampu menghadapi perubahan zaman," kata Dr. Tepi.

Akademisi, praktisi, dan penggiat literasi digital itu menjelaskan, buku Positive Parenting menempatkan pengasuhan sebagai amanah sekaligus proses pendidikan. Positive parenting merupakan pendekatan pengasuhan yang berlandaskan kasih sayang, penghormatan terhadap martabat anak, komunikasi yang sehat, batasan yang jelas, serta disiplin yang mendidik.

"Pengasuhan positif bukan berarti membiarkan semua keinginan anak. Orang tua tetap memberikan aturan dan konsekuensi, tetapi tanpa kekerasan, penghinaan, ataupun tindakan yang merusak harga diri anak," ujar doktor Administrasi Pendidikan lulusan UPI yang juga dosen Pendidikan Anak Usia Dini Institut Agama Islam Persatuan Islam (IAIPI) Bandung itu.

Sementara itu, Ustadzah Imas Karyamah, M.Pd., menekankan pentingnya kehangatan dan kehadiran emosional orang tua. Menurutnya, anak membutuhkan perhatian, pelukan, penghargaan, serta kesempatan untuk didengar.

"Hubungan yang aman atau secure attachment menjadi fondasi penting bagi perkembangan kepercayaan diri serta kemampuan sosial dan emosional anak," kata Imas.

Daiyah dan praktisi parenting tersebut mengatakan, kasih sayang juga menjadi karakter penting dalam pendidikan Rasulullah SAW, sebagaimana terlihat dalam perlakuan beliau terhadap Hasan dan Husain. Namun, lanjut Imas, kasih sayang tetap harus berjalan bersama aturan.

Anak perlu memahami mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan serta konsekuensi dari setiap tindakannya.

"Aturan mengenai ibadah, belajar, tidur, tanggung jawab di rumah, maupun penggunaan gawai perlu dibuat secara jelas, realistis, dan konsisten. Batasan bukan lawan dari kasih sayang. Batasan yang sehat justru membantu anak membangun pengendalian diri dan tanggung jawab," ujarnya.

Dosen Pendidikan Islam IAIPI tersebut juga menilai dukungan terhadap kemandirian anak sangat penting. Orang tua perlu memberikan kesempatan kepada anak untuk memilih, mencoba, menyelesaikan masalah, serta bertanggung jawab sesuai dengan tahap usianya.

Pembedah buku, Hj. Siti Komariah, Ph.D., mengatakan, tujuan pengasuhan bukan membuat anak terus bergantung kepada orang tua, melainkan mempersiapkan mereka menjadi pribadi yang mandiri dan bertanggung jawab. Menurutnya, disiplin memang perlu diajarkan sejak dini, tetapi tidak boleh dilakukan melalui kekerasan.

"Hakikat disiplin adalah mengajarkan, bukan menghukum atau melampiaskan kemarahan. Bentakan, penghinaan, pemberian label negatif, dan kekerasan fisik perlu digantikan dengan dialog, konsekuensi yang logis, refleksi, serta kesempatan memperbaiki kesalahan," ungkap doktor sosiologi lulusan Universiti Malaya, Kuala Lumpur, tersebut.

Dengan pendekatan tersebut, menurut Siti, anak diharapkan melakukan kebaikan karena memahami nilai dan tanggung jawab, bukan semata-mata karena takut kepada orang tua.

Orang tua perlu belajar mendengarkan secara aktif, berempati, memvalidasi perasaan anak, dan menghindari label negatif seperti "nakal", "malas", atau "bodoh".

"Ketika anak melakukan kesalahan, fokus komunikasi seharusnya diarahkan kepada perilaku dan solusinya, bukan menyerang kepribadian anak," ujar Sekretaris Program Studi Pendidikan Sosiologi FPIPS UPI itu.

Selain komunikasi, keteladanan menjadi salah satu unsur terpenting dalam pengasuhan.

"Keteladanan lebih kuat daripada nasihat. Jika ingin anak jujur, orang tua harus menunjukkan kejujuran. Jika ingin anak mencintai Al-Qur'an, anak harus melihat orang tuanya dekat dengan Al-Qur'an. Jika ingin anak bijak menggunakan gawai, orang tua juga harus menunjukkan perilaku digital yang sehat," kata Siti.

Di sisi lain, era digital saat ini dinilai menghadirkan tantangan pengasuhan yang semakin kompleks. Penggunaan gawai berlebihan, berkurangnya interaksi langsung dalam keluarga, paparan konten yang tidak sesuai usia, cyberbullying, permainan daring, persoalan privasi, media sosial, informasi palsu, hingga kecerdasan buatan menjadi bagian dari kehidupan anak masa kini.

Menurut Siti, solusinya tidak cukup dengan sekadar melarang anak menggunakan teknologi.

"Orang tua harus menjadi pendamping digital. Keluarga dapat membuat kesepakatan mengenai waktu penggunaan gawai, membangun zona bebas gawai, mengetahui konten yang dikonsumsi anak, mengajarkan privasi dan literasi digital, serta memperbanyak aktivitas keluarga di dunia nyata," ujar Ketua Yayasan Pendidikan Prima Cendekia Islami tersebut.

Pada bagian akhir diskusi, kedua penulis menegaskan bahwa prinsip positive parenting memiliki teladan yang kuat dalam kehidupan Nabi Muhammad SAW. Rasulullah SAW menunjukkan kasih sayang kepada anak, menghargai mereka, memberikan pengajaran dengan kelembutan, serta mendidik dengan keteladanan.

Melalui bedah buku ini, orang tua diajak memahami bahwa membentuk generasi Qur'ani tidak cukup hanya dengan perintah dan nasihat. Generasi Qur'ani perlu tumbuh dalam keluarga yang menghadirkan kasih sayang, komunikasi sehat, disiplin, tanggung jawab, serta keteladanan dalam kehidupan sehari-hari. ***

Tinggalkan Komentar

1000 Karakter tersisa

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!